Kakek tua buta
Karya : Na
Kulihat
Kakek tua menangis di atas peti
Yang akan membawanya nanti
Bersama sebercak putih di bola mata
Ia terus berorasi
Di atas peti
Hanya aku yang menatapi
Kudengar
Birunya laut, hijaunya darat, dan udara tanpa warna
Menjejak kaki di segala arah
Tanpa sebercak putih di gedungnya
Menguasai areanya
Kurasakan
Laut, darat, bahkan udara
Buta akan dunia
Tak ingat peti-peti mati
Yang membawa kakek tua abadi
Dan terus meratapi
Dengan kebutaannya yang telah menghantui
Bila ku terjaga
Karya : Na
Bilaku terjaga
Tetap buatku bermimpi
Menjalani segala ironi
Dalam mimpi yang harum mewangi
Bila ku terjaga
Jangan buatku bermimpi lagi
Ku tak mampu menghadapi
Mimpi-mimpi
Yang buatku terjaga kembali
Bila ku terjaga
Yakinkan aku
Bahwa ku kini
Berada di alam mimpi
Dan terjaga lagi
Melihat dunia yang belum terjaga
Dari mimpi-mimpi abadi
Yang akan terus bertahan
Hingga mentari mati
Walaupun dunia
Belum terjaga seperti diriku yang hina ini
Mimpi yang tak pernah ada
Karya : Na
Tak usah kau beri kami janji-janji lagi
Tak usah kau beri kami mimpi-mimpi lagi
Tak usah kau beri kami harapan-harapan lagi
Kau selalu beri kami harapan
Yang tak pernah berwujud kenyataan
Kau selalu beri kami mimpi
Yang tak pernah kau buat berarti
Kau pun selalu beri kami janji
Yang tak pernah kau tepati
Manusia penghuni gubuk rapuh
Karya : Na
Duniaku yang tlah lalu
Terasa hilang selalu
Dia mengambil hakku
Tuk nikmati dunia dengan jerih payahku
Mereka selalu begitu
Tertawa menatap kami
Manusia penghuni gubuk rapuh
Selasa, 29 Maret 2011
tulisan anakku Nina Khibrani Pasaribu
Taubat Bagi Para “Anggota”
Karya : Dinda Ps
Ketika titik hujan jatuh di bumi pertiwi
Ketika terik mentari menyinari bumi pertiwi
Ketika ombak bergumul menghancurkan bumi pertiwi
Ketika angin berputar mengitari bumi pertiwi
Kau tetap diam, tertawa, bersenang-senang
Kaki-kakimu tak beranjak dari tempat maksiatmu
Matamu tetap terpejam walau rapat belum usai
Selagi waktu masih sempat
Lekas bertaubat
“Milik Kami” Yang Kau Rampas
Karya : Dinda Ps
Perut kami masih belum terisi
Pikiran kami masih dipenuhi hutang lagi
Pendidikan kami tak dapat kami penuhi
Uang kami tak sebanyak yang kau miliki
Mengertilah, hidup sedang susah
Cabai tak dapat kami nikmati
Bahkan beras mengutip di pasar pagi
Lantas, kau masih rampas harta kami?
Karya : Dinda Ps
Ketika titik hujan jatuh di bumi pertiwi
Ketika terik mentari menyinari bumi pertiwi
Ketika ombak bergumul menghancurkan bumi pertiwi
Ketika angin berputar mengitari bumi pertiwi
Kau tetap diam, tertawa, bersenang-senang
Kaki-kakimu tak beranjak dari tempat maksiatmu
Matamu tetap terpejam walau rapat belum usai
Selagi waktu masih sempat
Lekas bertaubat
“Milik Kami” Yang Kau Rampas
Karya : Dinda Ps
Perut kami masih belum terisi
Pikiran kami masih dipenuhi hutang lagi
Pendidikan kami tak dapat kami penuhi
Uang kami tak sebanyak yang kau miliki
Mengertilah, hidup sedang susah
Cabai tak dapat kami nikmati
Bahkan beras mengutip di pasar pagi
Lantas, kau masih rampas harta kami?
MENIMANG CUCU
Menimang Cucu
Puisi Herni Fauziah
Seorang perempuan renta
melantunkan senandung buaian
tak berirama
Ceracau-ceracau
bagai suara mantera di antara wangi dupa
Seorang bocah
bertelanjang dada
meringkuk
merengkuh tubuhnya berselimut kain kumal, pudar warnanya
Gigil-gigil sisa tangisan tadi malam
masih lekat di gurat-gurat wajahnya
senandung buaian masih terdengar
mengisahkan cerita yang tertunda
Ayah tiada
Bunda di Saudi Arabia
bersandar di bahu yang renta
rapuh pula
dengan buaian kehilangan irama
senandung terus terdengar
entah sampai ke lembaran berapa
mereka tak berani menerka
Medan, 11 Maret 2011
Puisi Herni Fauziah
Seorang perempuan renta
melantunkan senandung buaian
tak berirama
Ceracau-ceracau
bagai suara mantera di antara wangi dupa
Seorang bocah
bertelanjang dada
meringkuk
merengkuh tubuhnya berselimut kain kumal, pudar warnanya
Gigil-gigil sisa tangisan tadi malam
masih lekat di gurat-gurat wajahnya
senandung buaian masih terdengar
mengisahkan cerita yang tertunda
Ayah tiada
Bunda di Saudi Arabia
bersandar di bahu yang renta
rapuh pula
dengan buaian kehilangan irama
senandung terus terdengar
entah sampai ke lembaran berapa
mereka tak berani menerka
Medan, 11 Maret 2011
Senin, 28 Maret 2011
cakap=cakap serlo ni (hari ini)
Untuk bisa menulis tentunya harus memiliki wawasan yang cukup tentang apa yang hendak ditulisnya. Untuk membekali wawasan tentunya harus melewati kegiatan membaca terlebih dahulu. kegiatan membaca dapat dilakukan dengan berbagai cara,
1. merencanakan bahan apa yang akan dibaca, atau
2. membaca apa saja yang dianggap perlu, atau
3. mengisi waktu luang dengan membaca apa saja atau bahkan
4. sudah membiasakan kegiatan membaca itu sedari kecil.
.
1. merencanakan bahan apa yang akan dibaca, atau
2. membaca apa saja yang dianggap perlu, atau
3. mengisi waktu luang dengan membaca apa saja atau bahkan
4. sudah membiasakan kegiatan membaca itu sedari kecil.
.
cakap=cakap serlo ni (hari ini)
ketika hati sedang gundah, kita hanya bisa diam. tapi kita harus tetap manis memandang hidup. menulislah. barangkali itu lebih baik dari pada diam. karena menulis juga merupakan bentuk terima kasih kita pada hidup. Pernah kita sekali waktu terjerembab dan jatuh, namun sebatang ranting kayu membantu kita untuk tegak kembali. Berjalan lagi sampai kita pada persimpangan, hari belum lagi senja. selembar daun tertiup angin jatuh di atas kepala, tak perlu mendongak apalagi bergumam, itu pertanda kehidupan masih setia berjalan dan berjalanlah terus.
Sekapur Sirih
Selamat datang di ranahku, Ranah Waqniate sengaja kubuka sekedar menampung curahan pengobat hati. Kata datu beru, enti ko gunah kumpungku, denie taon te morep, , serloken pumu ni baju kati gaep kite melangkah. Banyak makna yang masih tersirat yang belum kita baca. Maka baca dan maknailah segala yang kita lihat, demikian saudaraku. Mari kita bergabung di ranah ini.
Langganan:
Postingan (Atom)